Menuju
Cinta Sejati
Oleh SusWoyo
==============
Berkali-kali aku kandas dalam menjalin
hubungan dengan seorang perempuan. Terakhir kali aku sempat kecewa sangat berat
ketika adik kelasku di sekolah juga memutuskan pilihannya kepada seorang
prajurit muda yang masih menjalani latihan kemiliteran di suatu kota. Peristiwa
ini menambah deretan panjang kekecewaanku dalam sejarah hubunganku dengan
mahluk yang bernama perempuan.
Sejak itu aku tak betah di rumah.
Sejak itu aku merasa bahwa semua mahluk yang ada di sekelilingku membenci.
Orang-orang yang lewat, hewan-hewan piaraan, rumpun-rumpun bambu, tanaman padi
yang sedang menguning, seperti memandangku tak bersahabat.
Aku melangkah pergi. Kukatakan
"selamat tingal" kepada kampung yang amat kusayangi. Kutinggalkan aroma
pedesaan yang akrab sejak aku dilahirkan. Rasanya berat sekali meninggalkan
tanah kelahiran. Tapi apa boleh buat, karena semua mahluk di kampungku seolah
tak henti-henti untuk membenciku.
Kucoba menenggelamkan diri dengan
menjadi "mahasiswa" di universiatas kehidupan.
Aku "kuliah" di pasar, terminal,
pabrik-pabrik, tempat-tempat pelacuran, dan terahir aku sempat "ngangsu kawruh"
di Malioboro, sebuah tempat yang makin hari makin terkenal karena penghuninya
sangat heterogen.
Aku berguru kepada para pedagang
asongan, pedagang kaki lima, penjual koran, tukang becak, seniman jalanan, pengemis,
mahasiswa, orang cacat dan juga para dosen. Tak lupa juga kutemui teman-teman
yang ada di pesantren-pesantren dan di bangku-bangku perguruan tinggi.
Sampai suatu saat aku bertemu dengan
seseorang yang mengenalkanku dengan orang-orang shaleh, dengan para pemburu
cinta Illahi. Dia memperkenalkanku dengan sahabat Rasul, para Imam Madzab,
tokoh-tokoh pergerakan Islam, bahkan juga dengan para Sufi yang kadang agak
kontroversial dalam memandang cinta dan kehidupan, seperti Rabi'ah Al Adawiyah
dan Abu Yazid Al Bustami. Sampai tak tanggung-tanggung, ia bahkan menyelipkan
puisi Rabi'ah kepadaku.
Engkaulah Sahabatku, Kerinduanku dan
keselamatanku
Tanpa Diri-Mu, wahai hidup dan cinta-Mu
Takkan pernah aku mengembara melintasi
negri-negri tak terbatas ini
Betapa banyak rahmat, anugrah,
karunia dan nikmat
telah Kau tunjukan padaku
Cinta-Mu-lah yang kucari
Dan di dalamnya aku menemukan berkat
Aku mulai belajar untuk
menghilangkan kekecewaan karena cinta yang kandas. Aku mencoba terus belajar
dan belajar memburu cinta sejati, cinta pada Illahi seperti yang dicontohkan
para "pemburu" Illahi Rabbi.
Bertahun-tahun aku menenggelamkan
diri dalam aktifitas usaha. Lama aku mencoba melupakan cinta kepada lawan
jenis. Hingga seorang sahabat mengajakku ke rumah seseorang. Dan di tempat itu
aku mendapati ada seorang gadis muda sedang sakit.
Tubuhnya amat lemah, sorot
matanya tak bersemangat dan seolah sudah tak ada harapan menyenangkan baginya
seperti teman-teman seusianya yang sedang indah-indahnya menapaki masa-masa
remaja.
Aku iba melihatnya. Bahkan hampir
saja air mata ini tumpah di depannya. Dalam hati aku berdoa padaNya. Semoga ia
cepat sembuh dan cepat-cepat di karunia jodoh seseorang yang bisa menghiburnya.
Itu doa singkatku dalam hati.
Lama kemudian aku tak bertemu dengan
gadis itu. Dan ketika bertemu kembali, aku mendapati dia sudah sembuh dari
penyakitnya. Alhamdulillah, aku besyukur. Ia sudah kembali beraktifitas seperti
layaknya remaja masa itu. Bahkan dengan semangat ia masih mau meneruskan
sekolahnya yang sempat terbengkalai.
Entah kenapa, kami makin akrab.
Entah kenapa ahirnya timbul kembali hasrat dalam hati ini untuk mencintai lawan
jenis, setelah sekian lama kutenggelamkan bahkan ingin kukembalikan saja pada
pemilik cinta itu sendiri. Sebab aku masih trauma, bahwa setiap kali aku
mencintai seorang perempuan, maka kekecewaanlah yang akan kudapat.
Aku mencoba menghimpun kekuatan
untuk mengatakan "sesuatu" padanya. Harapan yang ada dalam benakku adalah:
semoga aku diterima. Dan seandainya ditolak, aku sudah siap untuk menerimanya
dan tak akan kecewa seperti masa-masa lalu.
Alhamdulillah, aku diterima. Dan aku
tak menyangka jika doaku ketika ia sakit, sekarang sudah terkabul. Dan sama
sekali tak menyangka jika ternyata jodoh yang diberika Allah padanya adalah
diriku sendiri yang mendoakan dia.
Sekarang ia menjadi istriku, menjadi
pendampingku dan sudah memberiku seorang keturunan. Aku tak menyangka kalau
cintaku kepada seorang perempuan harus melewati proses yang pahit getir. Dan
jika kehidupan itu bisa di refresh tentu aku tak mau mengulanginya lagi.
Barangkali, jika dulu cintaku
diterima dengan mulus oleh gadis pujaanku, aku belum tentu bisa mengenal para
"pemburu" cinta sejati. Mungkin aku masih buta dengan sirah para nabi, tak tahu
jejak indah para sahabat, tak akan mengenal bagaimana semangatnya para sufi
mencintai Sang Khalik.
Kejadian yang menimpaku di masa-masa
lalu, mengajari dan mengajak diri yang lemah ini, agar tak pernah berhenti
berproses dalam mendapatkan cinta yang sejati. Cinta kepada sekeliling, cinta
kepada mahluk, cinta kepada suami, istri, anak, sahabat, saudara dan
lain-lainnya adalah proses awal untuk menuju cinta yang sebenarnya. Cinta yang
agung, cinta yang tiada batas, tak lain dan tak bukan adalah cinta kepada Sang
Pemilik Cinta itu sendiri, yaitu Allah SWT.
sumber : eramuslim.com
**SURYATI**
Gd. Pascasarjana FEUI
Pascasarjana Ilmu Ekonomi Lt. 2
Kampus UI
Depok
Telp : 78849152-53
Fax : 78849154
Email : y4t12002@yahoo.com, suryati06@ui.ac.id
[Non-text portions of this message have been removed]
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================