Rabu, 08/02/2012 16:44
WIB<http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/cetak/kisah-hidup-imam-abu-hanifah-yang-menakjubkan>
Wajahnya tampan dan ceria, fasih bicaranya dan santun tutur katanya. Tidak
terlalu tinggi badannya, tidak pula terlalu pendek sehingga enak dipandang
mata. Di samping itu, beliau suka berpenampilan rapi, wajahnya ceria dan
gemar memakai wewangian. Ketika muncul di tengah-tengah manusia, mereka
bisa menebak kedatangannya dari bau wanginya sebelum melihat orangnya.
Itu lah dia Nu'man bin Tsabit Al-Marzuban yang dikenal dengan Abu Hanifah,
orang pertama yang meletakkan dasar-dasar fikih dan mengajarkan
hikmah-hikmah yang baik.
Abu Hanifah masih merasakan hidup sesaat sebelum berakhirnya khilafah bani
Umayah dan awal kekuasaan bani Abasiyah. Beliau hidup pada suatu masa di
mana para khalifah dan para gubernur memanjakan para ilmuwan dan ulama
hingga rejeki datang kepada mereka dari segala arah tanpa mereka sadari.
Meski demikian, Abu Hanifah senantiasa menjaga martabat jiwa dan ilmunya
dari semua itu. Sesampainya di istana beliau disambut ramah dengan penuh
hormat, dipersilakan duduk di samping khalifah Al-Manshur kemudian khalifah
bertanya tentang banyak persoalan yang menyangkut agama maupun dunia.
Ketika beliau bermaksud untuk pulang, Amirul Mukminin mengulurkan sebuah
wadah yang di dalamnya terdapat tiga puluh ribu dirham, padahal Al-Manshur
dikenal kikir dibanding yang lain. Lalu Abu Hanifah berkata, "Wahai Amirul
Mukminin, saya adalah orang asing di Baghdad ini dan tidak memiliki tempat
untuk menyimpannya. Maka aku titipkan di baitul maal, kelak jika aku
memerlukannya, saya akan meminta kepada Anda." Maka Al-Manshur mengabulkan
permohonannya. Hanya saja, masa hidup Abu Hanifah tak begitu lama setelah
peristiwa itu. Ketika beliau wafat, ternyata didapatkan di rumahnya harta
titipan orang-orang yang jauh lebih besar daripada pemberian Amirul
Mukminin.
Tatkala Al-Manshur mendengar berita tersebut, dia berkata, "Semoga Allah
merahmati Abu Hanifah. Dia telah mengelabuhi kita, dia tidak ingin
mengambil sesuatu pun dari kita, dia menolak pemberianku dengan cara halus."
Ini tidaklah aneh, karena Abu Hanifah memiliki prinsip bahwa tidak ada yang
lebih bersih dan lebih mulia daripada orang yang makan dari hasil tangannya
sendiri. Oleh sebab itu, beliau menyediakan waktu khusus untuk berdagang.
Beliau berdagang kain dan pakaian, kadang-kadang pulang pergi antar
kota-kota di Irak. Di samping itu beliau juga memiliki toko pakaian yang
terkenal dan banyak dikunjungi orang. Mereka mendapatkan kejujuran dalam
bermuamalah dan amanah dalam memberi dan mengambil. Tidak diragukan lagi
bahwa mereka merasakan kesenangan tersendiri dari cara muamalah Abu
Hanifah, perniagaan beliau maju berkat karunia Allah hingga banyak
keuntungan yang beliau dapat.
Beliau mendapatkan harta dengan cara yang halal lalu membelanjakan di
tempat yang semestinya. Telah menjadi kebiasaan beliau, setiap sampai haul
(satu tahun), beliau menghitung laba yang beliau dapat. Lalu menyisihkan
sekedarnya untuk mencukupi kebutuhannya, sisanya dibelikan barang untuk
diberikan kepada para penghafal Al-Qur'an, ahli hadits, ahli fikih dan
murid-muridnya baik berupa makanan ataupun pakaian. Beliau memberikan hal
itu sembari berkata, "Ini adalah laba dari hasil perniagaanku dengan
kalian, Allah melancarkannya di tanganku. Demi Allah, aku tidak memberi
kalian dengan hartaku sendiri, melainkan karunia Allah untuk kalian yang
diberikan-Nya melalui aku. Pada tiap-tiap rezeki tidak ada suatu kekuatan
dari seseorang kecuali dari Allah."
Berita tentang kedermawanan dan kebijaksanaan Abu Hanifah masyhur di
belahan bumi timur maupun barat. Terutama di kalangan para sahabat dan
orang-orang yang biasa bertemu dengan beliau.
Sebagai contohnya, pernah seorang pelanggannya datang ke toko beliau seraya
berkata, "Saya membutuhkan baju "khaz", wahai Abu Hanifah." Beliau
menjawab, "Apa warna yang Anda kehendaki?" dia menjawab, "Yang berwarna ini
dan ini." Beliau berkata, "Bersabarlah sampai saya menemukannya dan akan
aku berikan kepada Anda."
Pada kasus yang lain, ada seorang wanita tua yang mencari baju "khaz",
kemudian beliau menunjukkanbarang yang dimaksud. Lalu wanita itu berkata,
"Saya adalah seorang wanita yang lemah, tidak pula tahu menahu soal harga,
sedangkan ini hanyalah titipan. Maka juallah baju itu dengan harga yang
sama ketika Anda membelinya, lalu ambillah sedikit untung darinya, karena
saya adalah wanita lemah."
Abu Hanifah berkata, "Saya membeli baju ini dua potong dalam satu harga.
Saya sudah menjual yang sepotong hingga kurang empat dirham saja dari modal
saya. Belialah baju ini seharga empat dirham karena saya tidak ingin
mendapatkan laba dari Anda."
Suatu hari beliau mendapatkan pakaian usang dan lusuh yang dikenakan
seorang yang menghadiri majlisnya. Ketika orang-orang telah bubar dan tak
ada seorang pun selain beliau dan laki-laki itu, beliau berkata, "Angkatlah
alas shalat itu lalu ambillah sesuatu di bawahnya." Orang itu mengangkat
alas yang dimaksud, ternyata ada uang seribu dirham. Abu Hanifah berakta,
"Ambillah dan perbaikilah penampilan Anda." Orang itu menjawab, "Saya
adalah orang yang mampu. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melimpahkan
nikmat-Nya untuk saya. Saya tidak membutuhkannya." Abu Hanifah berkata,
"Jika Allah telah memberikan nikmatnya kepada Anda, lantas manakan bekas
nikmat yang engkau tampakkan? Belum sampaikah sabda Nabi saw, "Allah suka
melihat bekas-bekas nikmat-Nya atas para hambanya," sudah sepantasnya Anda
memperbagus penampilan Anda agar tidak menyusahkan teman Anda."
Kedermawanan Abu Hanifah dan perlakuan baiknya kepada orang lain mencapai
klimaksnya, hingga setiap kalia beliau memberikan belanja kepada
keluarganya, beliau juga menginfakkan jumlah yang sama kepada orang-orang
yang membutuhkan. Setiap kali beliau memakai baju baru, beliau juga
membelikan baju-baju untuk orang miskin sebesar harga bajunya. Jika
diletakkan makanan di hadapannya, beliau sisihkan separuhnya untuk
diberikan kepada orang-orang fakir.
Diriwayatkan pula bahwa beliau bertekad setiap kali bersumpah kepada Allah
di tengah pembicaraannya, beliau akan bersedekah dengan satu dirham perak.
Berikutnya ditingkatkan lagi, beliau berjanji untuk bersedekah satu dinar
emas setiap kali bersumpah di tengah pembicaraanya. Namun jika sumpahnya
menjadi kenyataan, dia sedekah lagi sebanyak satu dinar.
Salah satu rekan bisnis Abu Hanifah adalah Hafs bin Abdurrahman. Abu
Hanifah biasa menitipkan kain-kain kepadanya untuk dijual ke sebagian
kota-kota di Irak. Suatu kali Abu Hanfiah memberikan dagangan yang banyak
kepada Hafsh sambil memberitahukan bahwa pada barang ini dan itu ada
cacatnya. Beliau berkata, "Jika Anda bermaksud menjualnya, maka
beritahukanlah cacat barang kepada orang yang hendak membelinya."
Akhirnya Hafsh berhasil menjual seluruh barang, namun dia lupa
memberitahukan cacat barang-barang tertentu tersebut. Dia berusah
mengingat-ingat orang yang telah membeli barang yang ada cacatnya tersebut,
namun hasilnya nihil. Tatkala Abu Hanifah mengetahui duduk perkaranya, juga
tidak mungkin diketahui siapa yang telah membeli barang yang ada cacatnya
tersebut, beliau merasa tidak tenang hingga kahirnya beliau sedekahkan
seluruh hasil penjualan yang dibawa Hafsh.
Di samping itu, Abu Hanifah juga pandai bergaul. Majelisnya dipenuhi orang
dan dia bersusah hati bila ada yang tidak hadir meski dia orang yang
memusuhinya. Salah seorang sahabatnya mengisahkan, "Aku mendengar Abdullah
bin Mubarak berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri, 'Wahai Abu Abdillah alangkah
jauhnya Abu Hanifah dari ghibah. Akut ak pernah medengarnya menyebutkan
satu keburukan pun tentang musuhnya." Sufyan Ats-Tsauri menjawab, "Abu
Hanifah cukup berakal sehingga tidak akan membiarkan kebaikannya lenyap
karena ghibahnya."
Di antara kegemaran Abu Hanifah adalah mencukupi kebutuhan orang yang
menarik simpatinya. Sering ada orang lewat kemudian ikut duduk di
majelisnya tanpa sengaja. Ketikadia hendak beranjak pergi, beliau segera
menghampirinya dan bertanya tentang kebutuhannya. Bila dia punya kebutuhan,
maka Abu Hanifah akan memberinya, kalau sakit maka akan beliau antarkan dan
jika memiliki hutang maka beliau akan membayarkan sehingga terjalinlah
hubungan yang baik antara keduanya.
Dengan segala keutamaan yang disandang Abu Hanifah tersebut, beliau juga
termasuk orang yang rajin shaum di siang hari dan shalat tahajud di malam
harinya. Akrab dengan Al-Qur'an dan istighfar di waktu ashar. Ketekunannya
dalam beribadah di latar belakangi oleh peristiwa di mana beliau mendatangi
suatu kaum lalu mendengar mereka berkomentar tentang Abu Hanifah. "Orang
yang kalian lihat itu tidak pernah tidur malam." Demi mendengar kata-kata
itu, Abu Hanifah berkata, "Dugaan orang terhadapku ternyata berbeda dengan
apa yang aku kerjakan di sisi Allah. Demi Allah jangan pernah orang-orang
mengatakan sesuatu yang tidak aku lakukan. Aku tak akan tidur di atas
bantal sejak hari ini hingga bertemu dengan Allah."
Mulai hari itu Abu Hanifah membiasakan seluruh malamnya untuk shalat.
Setiap kali malam datang dan kegelapan menyelimuti alam, ketika semua
lambung merebahkan diri. Beliau bangkit mengenakan pakaian yang indah,
merapikan jenggot dan memakai wewangian. Kemudian beridiri di mihrabnya,
mengisi malamnya untuk ketaatan kepada Allah, atau membaca beberapa juz
dari Al-Qur'an. Setelah itu mengangkat kedua tangan dengan sepenuh harap
disertai kerendahan hati. Terkadang beliau mengkhatamkan Al-Qur'an penuh
dalam satu rekaat, terkadang pula beliau menghabiskan shalat semalam dengan
satu ayat saja.
Sebuah riwayat menyebutkan bahwa tatkala shalat malam secara berulang-ulang
Abu Hanifah membaca membaca firman Allah Ta'ala:
"Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan
kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pasti," (Al-Qamar: 46).
Beliau menangis karena takut kepada Allah dengan tangisan yang menyayat
hati.
Telah diketahui banyak orang selama lebih dari empat puluh tahun beliau
melakukan shalat fajar dengan wudhu shalat isya'. Hingga akhir wafat beliau
pernah mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak 7000 kali.
Setiap kali beliau membaca surat Al-Zalzalah, gemetar jasadnya, beretar
hatinya. Dengan memegang jenggotnya, beliau berkata, "Wahai yang membalas
sebesar dzarrah kebaikan dengan kebaikan dan sebesar dzarrah keburukan
dengan keburukan, selamatkanlah hamba-Mu Nu'man dari api neraka dan jauhkan
ia dari apa-apa yang bisa mendekatkan dengan neraka, masukkanlah ia ke
dalam luasnya rahmat-Mu, ya Arhamarrahimin. (novel/al-Islam)
http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/kisah-hidup-imam-abu-hanifah-yang-menakjubkan.htm
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/