+ -

Pages

Kamis, 09 Februari 2012

[daarut-tauhiid] JK: Konflik Palestina-Israel bukan persoalan agama. Benarkah?

JK: Konflik Palestina-Israel bukan persoalan agama. Benarkah?

Bilal

*Selasa, 7 Februari 2012 13:22:13*
<http://arrahmah.com/images/stories/2012/02/jusuf-kalla.jpeg>

*JAKARTA (Arrahmah.com)* – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)
mengapresiasi peluncuran buku Ahmad Syafii Maarif "Gilad Aztmon, Catatan
Kritikal Palestina dan Masa Depan Zionisme".

Menurutnya, buku tersebut menunjukkan bahwa konflik yang terjadi antara
Palestina-Israel adalah bukan konflik Agama. Dalam buku itu menunjukkan
bahwa konflik Palestina-Israel adalah persoalan kemanusiaan.

"Sebetulnya persoalan Palestina adalah bukan persoalan Agama dan bukan
persoalan Islam dan Kristen, melainkan persoalan kemanusiaan dan persoalan
kita semua," katanya.

Lebih lanjut ia menyatakan, publik terlalu berlebihan dalam menyikapi
konflik yang terjadi di Palestina-Israel. "Kita ini terlalu berlebihan
juga, orang Arab dan Israel itu peluk-pelukan," ujarnya.

Dijelaskannya, ada yang mengambil untung dalam konflik berkepanjangan
Palestina-Israel. Negara Eropa akan sangat untung, jika konflik tersebut
terus terjadi, karena harga minyak akan terus meningkat.

"Kalau negara Palestina-Israel damai pasti harga minyak itu turun," ucapnya.

*Sebelumnya, Jusuf Kalla sebagai Pembina Palang Merah Indonesia (PMI) juga
pernah menjalin kerjasama dengan Palang Merah Israel (Magen David Adom).**
*

Untuk diketahui, Gilad Aztmon adalah mantan pasukan tempur Angkatan Udara
Israel yang menentang terjadinya pertempuran Palestina-Israel. Gilad adalah
bangsa Yahudi yang tidak setuju dengan pertempuran tersebut.
Konflik Palestina, Persoalan Dienul Islam

Banyak kalangan menilai persoalan Palestina merupakan persoalan
kemanusiaan, karena seringkali Zionis Israel melakukan serangan terhadap
masyarakat lintas agama, bangsa, dan Ras. Akan tetapi, Bagi kaum Muslim,
akar persoalan Palestina (sejak Yahudi menjajah Palestina tahun 1948 hingga
hari ini) berawal dari persoalan akidah. Lebih luas lagi, bersinggungan
paling tidak dengan tiga aspek: (1) akidah/syariah Islam; (2) sejarah; (3)
politik.
1. Aspek akidah/syariah**

Palestina yang di dalamnya terdapat Al Quds adalah tanah waqaf umat Islam,
yang telah mereka warisi semenjak lebih dari 6000 tahun. Hal ini karena
Ibrahim as, bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula Nashrani, tetapi seorang
yang hanif dan muslim dan beliau tidak musyrik pada Allah (QS Ali Imran:
67).

Dari ayat tersebut sangat jelas disebutkan bahwa Palestina adalah warisan
ideologis, bukan warisan genetis. Masuknya Musa ke tanah Palestina bukan
karena nenek moyangnya orang Palestina, melainkan perintah keimanan dari
Allah Swt. *"Musa berkata, hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina)
yang telah ditentukan bagimu (selama kamu beriman). Dan janganlah kalian
lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kalian akan menjadi
orang-orang yang merugi."* (Q.S Al Maidah: 21).

Dari sudut pandang ideologis, bangsa mana pun berhak atas pengelolaan
Palestina selama memiliki akar ideologi yang sama dengan ideologi yang
diimani Musa juga nenek moyangnya Ibrahim. *"Katakanlah, kami beriman
kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan
kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang
diberikan kepada Musa dan Isa serta apa-apa yang diberikan kepada nabi-nabi
dan tuhannya…" (Q.S Al Baqarah: 136)*

Karena itu, Zionis Israel Yahudi tidak memiliki hak waris atas tanah
Palestina baik dari Ibrahim, Musa, atau Ya'kub (Israel) yang merupakan
nenek moyang mereka. Sebab, Palestina adalah warisan keimanan dan Zionis
Israel Yahudi saat ini berada dalam ruang keimanan yang berbeda, bahkan
bertentangan dengan pendahulu mereka. *"Dan Ibrahim telah mewasiatkan
ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'kub. "Hai anak-anakku,
sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati
kecuali dalam memeluk Islam." (Q.S Al Baqarah: 132)*

Bahkan, lebih tegas lagi pernyataan putusnya hubungan (bara'ah) dengan
orang-orang yang tidak satu jalan keimanan dinyatakan oleh Musa ketika
terjadi pembangkan dari bangsa Israel. *"Berkata Musa, ya Tuhanku, aku
tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah
antara aku dan orang-orang yang fasik itu."(Q.S Al Maidah; 25)*

Dari sudut pandang keimanan, Palestina adalah warisan Islam. Bukan warisan
tiga agama dan peradaban; Islam, Kristen, serta Yahudi yang sering
disebutkan mempunyai akar yang sama, yaitu agama Ibrahim. Sebab, Ibrahim
hanya memiliki satu agama, agama Islam. *"Ataukah kalian, (orang-orang
Yahudi dan Nasrani) megatakan bahwa Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'kub dan
anak cucunya adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah, apakah
kalian yang lebih mengetahui atau Allah?…" (Q.S Al Baqarah: 140) "Ibrahim,
bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula Nashrani, tetapi seorang yang hanif
dan muslim dan dia tidak musyrik pada Allah." (QS Ali Imran: 67)*.

Lebih dari itu, dalam pandangan Islam, Tanah Palestina (Syam) adalah tanah
milik kaum Muslim. Di tanah ini berdiri al-Quds, yang merupakan lambang
kebesaran umat ini, dan ia menempati posisi yang sangat mulia di mata kaum
Muslim. Ada beberapa keutamaan dan sejarah penting yang dimiliki al-Quds. *
Pertama*: *tanah wahyu dan kenabian.** *Rasulullah saw. bersabda, *"Para
malaikat membentangkan sayapnya di atas Syam dan para nabi telah membangun
Baitul Maqdis (Al-Quds)."* Ibnu Abbas menambahkan bahwa Rasulullah saw.
juga bersabda, *"Para nabi tinggal di Syam dan tidak ada sejengkal pun kota
Baitul Maqdis kecuali seorang nabi atau malaikat pernah berdoa atau berdiri
di sana." *(HR at-Tirmidzi).

*Kedua: Tanah kiblat pertama.* Arah kiblat pertama bagi Nabi Muhammad saw.
dan kaum Muslim setelah hijrah ke Madinah adalah Baitul Maqdis (al-Quds)
sampai Allah SWT menurunkan wahyu untuk mengubah kiblat ke arah Ka'bah (QS
al-Baqarah [2]: 144)*.*

*Ketiga: *Masjid al-Aqsha adalah tempat suci ketiga bagi umat Islam dan
satu dari tiga masjid yang direkomendasikan Nabi saw. untuk dikunjungi.
Beliau bersabda, "*Tidaklah diadakan perjalanan dengan sengaja kecuali ke
tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), Masjidil Haram (di
Makkah), dan Masjid Al-Aqsha." *(HR al-Bukhari dan Muslim).* *

Rasulullah saw. pun bersabda, *"Sekali shalat di Masjidil Haram sama dengan
100.000 shalat. Sekali shalat di Masjidku (di Madinah) sama dengan 1000
shalat. Sekali shalat di Masjid al-Aqhsa sama dengan 500 shalat." *(HR
ath-Thabrani dan al-Bazzar).

*Kelima: tanah ibukota Khilafah. *Yunus bin Maisarah bin Halbas bahwa Nabi
Muhammad saw. pernah bersabda, *"Perkara ini (Khilafah) akan ada sesudahku
di Madinah, lalu di Syam, lalu di Jazirah, lalu di Irak, lalu di Madinah,
lalu di al-Quds (Baitul Maqdis). Jika Khilafah ada di al-Quds, pusat
negerinya akan ada di sana dan siapa pun yang memaksa ibukotanya keluar
dari sana (al-Quds), Khilafah tak akan kembali ke sana selamanya." *(HR Ibn
Asakir).
2. Aspek Sejarah.**

Sejarah telah mencatat bahwa Syam (Palestina adalah bagian di dalamnya)
pernah dikuasai Romawi selama tujuh abad (64 SM-637 M). Namun, berita akan
jatuhnya Syam dari imperium Romawi ke tangan kaum Muslim muncul kala
Rasulullah saw. menghancurkan sebuah batu ketika penggalian parit di
Madinah dalam rangka menghadapi kaum musyrik dari Makkah. Ketika itu
Rasulullah saw. berkata, *"Allah Mahabesar. Sungguh telah diberikan kunci
Syam kepadaku."*

Tujuan suci untuk merebut Syam dari imperium Romawi terus digelorakan oleh
Rasulullah saw. kepada para Sahabat, di antaranya kepada Muadz pada suatu
hari. Beliau bersabda, "*Muadz! Allah Yang Mahakuasa akan membuat kalian
sanggup menaklukkan Syam, setelah kematianku…"*

Tepat pada tahun ke-8 H sebanyak tiga ribu pasukan yang dipimpin oleh Zaid
bin Haritsah bergerak menuju Balqa', salah satu wilayah Syam. Di sana sudah
menanti bala tentara Romawi yang berjumlah dua ratus ribu di bawah pimpinan
Herqel, seorang kaisar Romawi.

Perjuangan panjang dan melelahkan kaum Muslim itu baru menuai hasil pada
masa kepemimpinan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. (638 M).

Namun,* *setelah dikuasai kaum Muslim sekian abad hingga masa Kekhilafahan
Abbasiyah, tanggal 25 November 1095, Paulus Urbanus II menyerukan Perang
Salib dan tahun 1099 pasukan Salib berhasil menaklukkan al-Quds. Mereka
membantai sekitar 30.000 warga al-Quds dengan sadis tanpa pandang bulu
termasuk wanita, anak-anak dan orang tua di dalamnya.

Namun, alhamdulillah, pada tahun 1187, Salahuddin al-Ayyubi sebagai
komandan pasukan Muslim berhasil membebaskan kembali al-Quds dari pasukan
Salib yang telah diduduki selama sekitar 87 tahun (1099–1187).

Bila kita melihat sejarah sebelum Rasulullah SAW, Zionis Israel Yahudi juga
tidak memiliki akar sejarah sebagai penduduk asli Palestina. Kedatangan
mereka ke tanah Palestina pada permulaan akhir periode sebelum lahirnya Isa
bin Maryam sampai permulaan masehi bukanlah sebagai pemilik, tetapi sebagai
imigran dari Mesir, begitu juga kedatangan mereka ke tanah Palestina saat
ini yang berujung pada kolonialisasi. Sebelum masuknya bangsa Israel,
Palestina telah dihuni oleh bangsa Kanaan yang merupakan nenek moyang
bangsa Arab Palestina saat ini. Ini disebutkan dalam Kitab Bilangan XIII
ayat 17-18,

"Maka Musa menyuruh mereka mengintai tanah Kana'an dan mengamat-amati
keadaaan negeri itu; apakah bangsa yang mendiaminya kuat atau lemah, apakah
mereka sedikit atau banyak."

Pernyataan serupa juga diceritakan dalam Al-Qur'an. Bahkan Al Qur'an
menyebutkan bahwa bangsa Israel itu tidak layak atas tanah Palestina karena
perilaku mereka sendiri.

*"Musa berkata, hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah
ditentukan bagimu (selama kamu beriman). Dan janganlah kalian lari ke
belakang (karena takut kepada musuh) , maka kalian akan menjadi orang-orang
yang merugi.. Mereka berkata, hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu
ada orang-orang yang gagah perkasa (bangsa kanaan). Sesungguhnya kami
sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar. Jika mereka
keluar, pasti kami akan memasukinya. Berkatalah dua orang di antara
orang-orang yang takut kepada Allah yang Allah telah memberi nikmat atas
keduanya; serbulah mereka melalui pintu gerbang kota ini. Maka bila kalian
memasukinya, niscaya kalian akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya
kalian bertawakkal jika kalian benar-benar beriman. Mereka berkata, hai
Musa, sekali-kali kami tidak akan memasukinya selamanya selagi mereka ada
di dalamnya. Karena itu, pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah
kamu berdua, sesungguhnya kami hanya akan duduk menanti di sini saja.
Berkata Musa, ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan
saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara aku dan orang-orang yang fasik itu.
Allah berfirman (jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan
atas mereka selama empat puluh tahun. Lalu, selama itu mereka
berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu, maka janganlah kamu
bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang fasik itu. (Q.S Al Maidah:
21-26)*

Dalam sejarah Palestina, negeri itu pernah jatuh ke tangan Bangsa Israel
pada permulaan Masehi. Pertempuran mereka dengan penduduk asli Palestina
tercatat dalam kitab Samuel I, bab 13 dan 14 yang mengisahkan strategi Saul
dan Yonatan yang menyerbu Michmas

"…Orang Filistin berkemah di Micmash…dan di antara pelintasan bukit-bukit
yang dicoba Yonatan menyeberanginya ke arah pasukan pengawal Filistin… dan
kekalahan yang ditimbulkan Yonatan dan pembawa senjatanya, besarnya
kira-kira dua puluh orang dalam jarak kira-kira setengah alur dari
pembajakan ladang."

Namun, pada tahun 70 M, kekuasan bangsa Israel itu runtuh seiring kematian
Herodes dan masuknya kekuatan Romawi menguasai seluruh Palestina. Sejak itu
bangsa Israel menjadi bangsa yang tidak memiliki tanah air dan tersebar di
berbagai negara sampai mereka melakukan kolonialisasi kembali atas
Palestina pada tahun 1967 M. Sementara itu, tanah Palestina menjadi tanah
wakaf umat Islam pada masa pemerintahan Umar bin Khattab pada abad 7 M
setelah Romawi ditaklukkan tentara Islam.

Dalam hukum internasional dinyatakan bahwa yang berdaulat atas suatu
wilayah adalah mereka yang pertama kali mendiami wilayah tersebut dan
menunjukkan bukti eksistensi mereka atas wilayah tersebut berupa aktivitas
dan bukti-bukti fisik yang menunjukkan kedaulatan mereka atas wilayah
tersebut. Karena itu, bangsa Kana'an yang merupakan nenek moyang Arab
Palestina saat ini adalah pemilik sah tanah Palestina.
3. Aspek politik. **

Aspek politik dari isu Palestina ini tidak bisa dilepaskan dari zionisme
dan imperialisme Barat. Zionisme adalah gerakan orang-orang Yahudi untuk
mendirikan negara khusus bagi komunitas mereka di Palestina. Theodore
Hertzl merupakan tokoh utama yang mencetuskan ide pembentukan negara
tersebut. Ia menyusun doktrin Zionismenya dalam bukunya berjudul *Der
Judenstaad'* (The Jewish State). Secara nyata, gerakan ini didukung oleh
tokoh-tokoh Yahudi yang hadir dalam kongres pertama Yahudi Internasional di
Basel (Swiss) tahun 1895. Kongres tersebut dihadiri oleh sekitar 300 orang,
mewakili 50 organisasi zionis yang terpencar di seluruh dunia.

Sebagai gerakan politik, zionisme memerlukan kendaraan politik. Zionisme
lalu menjadikan Kapitalisme sebagai kendaraan politiknya. Zionisme ternyata
berhasil menuai berbagai keuntungan politis berkat dukungan imperialisme
Barat sejak dimulainya imperialisme tersebut hingga saat ini.

Dua aspek setelah persoalan aqidah di atas tersebut pun jika ingin
ditimbang dengan syari'at, bermuara pula pada persoalan akidah. Sebab
persoalan sejarah dan hak kepemilikan tanah serta persoalan politik
menyangkut persoalan akidah umat Islam, dimana sejengkal tanah kaum
muslimin dizhalimi menjadi faktor pemicu disahkannya hukum Jihad menjadi
fardhu 'ain dalam pembahasan fikih oleh para ulama.

*Wallahua'lam bishshowab.*

(bilal/arrahmah.com)


[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

5 Daarut Tauhiid: [daarut-tauhiid] JK: Konflik Palestina-Israel bukan persoalan agama. Benarkah? JK: Konflik Palestina-Israel bukan persoalan agama. Benarkah? Bilal *Selasa, 7 Februari 2012 13:22:13* < http://arrahmah.com/images/st...
< >